Senin, 06 September 2021

NONTON LENONG

 Hari ini Fayyad dan Farhan senang sekali. Ummi dan Abi mengajak mereka ke Taman Ismail Marzuki Jakarta untuk nonton Lenong Betawi.

“Lenong Betawi itu apa sih Bi?” tanya Fayyad pada Abi saat mereka sedang dalam perjalanan pulang ke rumah.

“Lenong adalah kesenian teater tradisional atau sandiwara yang dibawakan dalam dialek Betawi, “ jawab Abi sambil tersenyum.

“Lakon atau skenarionya mengandung pesan moral, misalnya menolong yang lemah, perbuatan tercela dan lain-lain,” sambung Ummi.

“Ooo...pantas aja tadi ada yang berperan jadi orang jahat, terus ada yang menolong,” sahut Farhan antusias.

“iya! Ceritanya bagus, seru dan lucu, aku suka,” Fayyad tak kalah antusias.

Tak terasa, mobil sudah sampai di depan rumah.

“lain kali kita nonton lagi ya Bi, Ummi…”

Abi dan ummi tersenyum.               


 

Senin, 26 Juli 2021

NAYA

Adalah Naya, gadis mungil yg selalu diantar papanya setiap pagi. Wajahnya manis, kulitnya putih dan rambutnya agak bergelombang. Ku lihat sang papa ingin segera berangkat kerja...namun Naya masih belum mau melepas jari mungilnya dr genggaman papanya. Ah..mungkin karena masih belum nyaman, maklum Naya duduk di kelompok A..baru sekitar tiga bulan bersekolah. Aku coba menyapanya dngn mmperkenalkan diri bahwa aku adalah guru baru di sekolah ini. Seperti biasa..dngan mengumbar senyum dan sapaan khas kpd anak-anak. Naya nampak ragu. Bahkan nyaris menggelengkan kepala. "Yuuuk...sama bu Lina mainnya...biar papa berangkat kerja.." ujarku seraya meraih jari kecilnya. Yess...!! Berhasil...!! Meskipun tanpa ekspresi, Naya mau ku gandeng... Dan papanya pun dapat segera pergi dngan lega.
Sejak itu...beberapa pagi berikutnya aku selalu menyambut kedatangan Naya. Dengan rutinitas yang sama, menyapanya, meraih jari mungilnya, dan menemaninya bermain. Suatu hari Naya mengeluarkan kertas dari dalam tasnya. Tanpa berbicara dia menunjukkan gambar yang ia buat dengan bolpoint. "Masya Allah...bagus sekali....!! Sahutku antusias. " ini gambar apa ya Naya..." tanyaku pura-pura tak mengerti. " ini papa...ini mama.....ini aku..." jawabnya malu-malu. Suaranya pun pelan tertahan. "Waaahhh hebat...!! " ujarku bersemangat seraya mengacungkan dua jempol dihadapannya. 
Bagiku mendengar suara Naya meski pelan tertahan adalah kebahagiaan tersendiri. Karena sudah beberapa hari menemaninya bermain tak pernah ku dengar sedikit pun suaranya. Padahal aku sudah berusaha keras memancingnya untuk berbicara. Berbagai pertanyaan kuajukan, ia hanya menjawab dngan gelengan kepala atau mengangguk, dan tersenyum kecil jika aku berusaha menggodanya dngn tingkah lucu. 
 Dua hari berikutnya, seperti biasa ku sapa Naya yg sedng bersama papanya. Kali ini, dia langsung menghampiriku..menyalami, dan memelukku hangat... Hhhmmm..bahagia sekali rasanya mendapat sambutan sehangat ini. Sejurus kemudian Naya melepaskan pelukannya, menggandeng tanganku dan mengajakku ke dalam kelas. Sepertinya ada yang ingin dia tunjukkan. "Buat bu Lina..." ujar Naya seraya menyodorkan selembar kertas yang tergulung pada ku. "Wooww..gambar lagi..?" Tanyaku seraya menerima kertas tersebut dari tangan mungilnya. Segera ku buka gulungan kertas tersebut. Ada dua gambar anak perempuan, yang satu dengan rambut di kuncir dan yang satu lagi memakai jilbab. "Ini aku...yang ini bu Lina" terang Naya kemudian. "Oh yaa...?" Aku setengah menjerit. Haru, senang, bangga, tak menyangka, semuanya campur aduk di benakku. Anak yang kira-kira baru lima tahun di hadapanku ini....anak yang baru beberapa hari ini ku kenal....sudah bisa memberiku hadiah seindah ini...? Masya Allah...terima kasih Naya...jeritku dalam hati. Ku tatap gambar yg di berikan Naya lekat...Gambar khas bocah 5 tahunan. Rasa bahagia mengaliri sekujur tubuhku, sungguh ini adalah penghargaan luar biasa bagiku. Semacam pengakuan bahwa kehadiranku di terima dengan hangat di tempat baru ini. Aku yakin...besok akan ada lagi Naya yang lainnya yang mulai dapat menerima kehadiranku. "Terima kasih Naya..." ucapku seraya memeluknya erat.

Jumat, 23 Juli 2021

Akhir kata

Terkadang tidak ada kata yang dpt diucapkan diakhir perpisahan. Terlalu banyak rasanya yang ingin disampaikan, hingga tak dapat berkata-kata.
Yaa..demikianlah biasanya yg terjadi kala tiba dipenghujung pertemuan,...
Mohon maaf atas segenap salah dan khilafku, mohon maaf jika ada tutur dan sikap yg tak sempurna....
Jika kiranya ada kebaikan dariku..tentulah itu datangnya dari Allah...dan kpd Allah semuanya kan kembali...
Semoga kita semua selalu dalam rahmat dan perlindunganNYA...

     #edisi pisah B3 Aba4 2018#

Selasa, 20 Juli 2021

RAHASIA NADHIFA


 

Pagi itu seperti biasanya,  aku lihat langit tampak cerah meski matahari belum begitu bersinar. Namun suara kicauan burung saling bersahutan menyambut sang mentari, aku tetap semangat berangkat menuju sekolah menyambut kedatangan anak-anak. Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 07,00wib. Waktunya menyambut kedatangan anak anak di gerbang sekolah. Dengan senang hati kusiapkan semangat dan menyiapkan materi yang menyenangkan untuk mereka. Sudah tak sabar aku cepat ingin bermain bersama mereka.

Satu persatu anak anak berdatangan, ku sapa mereka dengan senyuman terhangat, menanyakan kabar, salim atau tos lalu mempersilahkan mereka masuk ke dalam kelas.

“ Bu Lina.....” suara mungil memanggilku saat aku mulai melangkah masuk. Aku menengok. Seorang gadis mungil setengah berlari mengejarku.

“ Nadhifa....? “ aku menghentikan langkah, lalu membungkukkan badan, agar sejajar dengannya. Nadhifa segera meraih tanganku untuk salim dan tersenyum ceria. Kami pun melangkah beriringan menuju kelas.

“koq terlambat..?” tanyaku seraya merangkul pundaknya.

“iya bu Lina. Semalam aku menunggu mama pulang ....” sahutnya tanpa hilang keceriaan.

“Oww...berarti di antar mama dong hari ini....” tebakku. Bisa di pastikan bila Nadhifa seceria pagi ini yang mengantarkan berangkat ke sekolah adalah mamanya.

“iiihhh..koq bu Lina tau siiiihhh...” Nadhifa gemas.

“tau dooongg....” jawabku seraya mencolek pinggangnya.

                                                                     --------------*******--------------

Nadhifa, gadis mungil yang cerdas. Perawakannya tidak gemuk namun juga tidak terlalu kurus. Rambutnya lurus panjang sebahu. Seringkali ia datang ke sekolah dengan rambut dikuncir kuda. Banyak bicara dan selalu punya ide kreatif. Sikap pemimpin sudah terlihat dari caranya mengatur teman- teman saat bermain.

Ketika bermain peran misalnya,  ia bak sutradara mengatur semua temannya untuk memainkan peran yang ia tentukan. Dan lucunya, tidak satu pun temannya yang membantah. Semua melakukan apa

 

yang diperintahkan Nadhifa. Dan bermain peran pun berjalan sempurna.

Suatu hari Nadhifa datang diantar mamanya sampai di pintu  kelas. Hari ini ia terlambat lagi. Namun seperti biasa ia tetap gembira. 

“Assalaamu’alaikuum...” ucap Nadhifa penuh senyum seraya melangkah menghampiriku untuk salim.

“Wa’alaikumussalaam anak cantiik” aku menjulurkan tangan lalu toss dan membuka lebar  kedua tanganku tanda menawarkan pelukan.

Nampak mama Nadhifa tersenyum  memperhatikan keakraban kami.

“Bu Lina,...ini dari Nadhifa...” mama Nadhifa menjulurkan kantong kresek kecil berisi botol bekas minuman. Aku segera mengampiri untuk mengambil kantong tersebut.

“saya bingung, buat apa sih bu....Sudah satu minggu ini dikumpulkan ”

“alhmadulillah...terima kasih ya ma, ...”

“kata nadhifa, bisa untuk membuat sesuatu ?” mama nadhifa menjawab sendiri pertanyaannya.

“iya ma, betul sekali. Saya sering sampaikan pada anak-anak bahwa barang yang sudah tidak terpakai masih dapat dimanfaatkan lagi, misalnya untuk membuat sesuatu yang dapat kita gunakan kembali seperti membuat tempat pensil dari kardus susu, membuat mobil mobilan dari botol bekas, ..”

“daur ulang...”

“iya ma, ...” aku mengiyakan sambil tersenyum

“oo..begitu, ...”mama Nadhifa pun tersenyum lalu berpamitan.

Segera ku tutup pintu kelas dan mengajak anak anak bersiap memulai kegiatan.

Tiba tiba Nadhifa menghampiriku hendak membisikkan sesuatu. Aku pun membungkuk agar sejajar dengannya.

“bu Lina, nanti bantu aku ya...” bisiknya bersemangat.

“bantu apa..?” tanyaku penasaran.

 

“nanti aja, kalau teman-teman sudah pulang..” Nadhifa mengedipkan sebelah matanya.

Aku tesenyum geli dengan tingkahnya. Namun aku mengerti, ada sesuatu yang direncanakan anak cerdas yang satu ini.

                                                                     --------------*******--------------

Tepat pukul 11.30 waktunya untuk pulang. Satu persatu anak anak sudah dijemput. Tinggal Nadhifa seorang. Aku mulai gelisah, koq tumben Nadhifa dijemput terlambat.

“Bu Lina ..ayo ke kelas...” Nadhifa menggandeng tanganku menuju kelas.

“Ada apa Nadhifa sayang...?” tanyaku setelah di dalam kelas.

“Aku punya rencana, Bu Lina jangan bilang siapa-siapa ya...” Nadhifa bicara perlahan, padahal hanya ada kami berdua.

“Rencana apa sih...?” aku penasaran

“Janji yaa..ini rahasia...” ucapnya sambil mengacungkan jari kelingkingnya dihadapanku.

Aku tersenyum geli. Mau tak mau ku acungkan pula  jari kelingking lalu mengaitkan di kelingking mungilnya, tanda setuju menjaga rahasia.

“Apa rahasianya...?” tanyaku sejurus kemudian.

“Aku mau buat sesuatu. Bu Lina harus bantu aku ya...”

“Buat apa...? untuk siapa...?”

“Aku juga belum tau mau buat apa...nadhifa mengangkat pundaknya.

“Tapi aku ingin buat sesuatu...” lanjutnya bersemangat.

“Untuk siapa...?” tanya ku lagi.

Belum sempat Nadhifa menjawab, suara seseorang mengucapkan salam diujung pintu.

“Assalaamu’alaikum...” suaranya terengah, mungkin karena terburu-buru.

“Wa’alaikumussalaam..” jawabku.

“Maaf bu, saya terlambat..”ucap mbak masih terengah.

 

 

 

“Nggak apa apa mbak..”aku tersenyum.

“Ayo Nadhifa, mbak sudah datang...”ujarku pada Nadhifa.

Nadhifa segera beranjak. Sambil mengulurkan tangannya untuk salim, dia berbisik “jangan lupa ya Bu Lina, rahasia...”

Aku mengangguk, dan mengedipkan mata  tanda mengerti.

                                                                     --------------*******--------------

Aku tengah merapikan perlengkapan yang dibutuhkan hari ini saat suara mungil yang ku kenal memanggilku diujung pintu.

“Bu Linaaaa....” panggil Nadhifa bersemangat.

“assalaamu’alaikum anak  solehah....” ucapku seraya menghampirinya. Tidak ada siapa-siapa di belakangnya.

“Koq sendiri ? “ tanyaku sambil berlutut. Mensejajarkan dengan tubuh mungilnya. Memang demikianlah sebaiknya jika kita hendak berbicara dengan anak-anak.

“Aku diantar mama, tapi sampai gerbang saja...” ujarnya bangga.

“Oh yaa...? Hebat..!” aku mengacungkan dua jempol. Nadhifa tertawa senang.

Sejurus kemudian dia mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. Ku amati Nadhifa menariknya dengan hati-hati. Selembar foto.

“foto mama dan papa? Untuk apa?

“aku ingin buat sesuatu pakai foto ini. Bu Lina bisa bantu kan?

“Insya Allah bisa, sudah ada idenya belum ?”  

Lagi lagi Nadhifa membisikkan sesuatu ditelingaku. Aku pun tersenyum, dan megangguk tanda mengerti. Tanpa berkata, aku mengacungkan jempol. Nadhifa tersenyum senang.

Mumpung teman-temannya belum datang, aku menuju box perlengkapan di loker kelas. Ku cari benda-benda yang dibutuhkan Nadhifa untuk proyek rahasianya.

                                                                     --------------*******-------------

 

Pukul 12 siang. Hari kedua kami menyelesaikan karya didalam kelas. Sudah hampir selesai. Tinggal finishing. Nadhifa memberi warna pada gambar yang dibuatnya. Masya allah semangat anak ini, tidak sebanding rasanya dengan usianya yang belum genap enam tahun. Membacanya masih belum lancar, bahkan menuliskan apa yang dia inginkan pun masih ku eja dan ada tulisan yang ku beri contoh karena berbahasa Inggris. Sungguh aku tidak menyangka ia menyiapkan ini untuk memberi kejutan bagi kedua orang tuanya di hari ulang tahun pernikahan mereka. Ia menyebutnya proyek rahasia. Dan benar benar rahasia. Aku dilarang menceritakan siapa pun, membuatnya pun hanya berdua saja setelah teman-temannya yang lain pulang.

“Yess...! selesai....!” Nadhifa mengakhiri goresan warnanya. Wajahnya nampak puas.

 “Bagus banget Nadhifa....!” aku setengah menjerit. “Pasti dah mama dan papa senang dengan karya Nadhifa.

“rencana selanjutnya apa lagi ?” tanyaku sambil membantu Nadhifa memasukkan karyanya dalam paper bag yang ku buat.

Nadhifa hanya tersenyum. Aku tau, sudah ada rencana difikirannya.

--------------*******-------------

Aku hendak membuka laptop, saat ku lihat ada satu pesan masuk di Handpone yang ku letakkan di meja. Ku baca nama pengirimnya, mama Nadhifa.

“Bu Lina, terima kasih banyak ya, sudah mendampingi Nadhifa mempersiapkan hadiah indah buat kami...sungguh kami sangat terharu bu...saat pulang dari kerja kami dapati di dinding kamar ada bingkai foto yang sangat lucu, lengkap dengan tulisan tangan dan gambar Nadhifa. Dan juga bunga dengan vas dari botol bekas itu bagus sekali. Saya yakin, Nadhifa membuatnya bersama Bu Lina. Apalagi dua hari ini dia minta dijemput terlambat. Pasti untuk membuatnya bersama ibu. Makasih banyak ya bu....sungguh ini hadiah terindah diulang tahun pernikahan kami, titip salam dari papa Nadhifa..”

Masya Allah, aku terharu. Sangat tidak menyangka respon orang tua Nadhifa sangat postif dan bangga atas karya anaknya. Mata ku berkaca, sejuk mengalir merambahi relung hatiku. Seorang anak yang  belum genap berusia enam tahun telah  membuatku demikian tersanjung. “Terima kasih Nadhifa, proyek rahasia itu semakin membuatku mengerti makna sebuah pemberian bukanlah  pada harga dan rupa”

--------------*******-------------

GOGI DAN TEMAN TEMAN BAIK HATI

 


    Gogi adalah seekor gajah kecil yang sombong. Dia tidak mau bermain dengan teman-temannya.

Dia merasa dirinya adalah yang paling hebat di hutan itu. Dengan badannya yang besar. Gogi merasa dirinya adalah binatang yang paling kuat.

Dengan kakinya yang kekar. Gogi merasa paling mampu melintasi belukar di dalam hutan.

Dengan suaranya yang melengking nyaring, Gogi merasa paling pandai bernyanyi. Dan tak satu pun burung di hutan itu yang dapat menandingi suaranya.

Ibu Gogi sudah sering mengingatkan, bahwa apa yang di miliki adalah titipan dari Allah. Untuk itu Gogi harus pandai menjaganya, dan tidak perlu berlaku sombong atas apa yang di miliki.

“Hati-hati dengan tubuhmu Gogi…” pesan ibu suatu hari. “Gunakanlah untuk kebaikan misalnya, membantu orang lain yang membutuhkan bantuanmu…itu akan lebih baik bagi dirimu sendiri. Orang lain akan senang dan sayang padamu, Allah pun akan bertambah sayang padamu bahkan memberikan pahala kebaikan berlipat-lipat atas setiap kebaikan yang kamu lakukan…” nasehat ibu panjang lebar.

Namun Gogi tidak mengindahkan pesan ibunya. Justru Gogi selalu enggan bermain bersama teman-temannya. Padahal mereka semua ingin sekali bermain dengan Gogi.

Moli si monyet kerap menyapa sambil bergelantungan di dahan yang Gogi lewati.

“ Gogi…. bolehkah aku bermain denganmu…” sapa Moli suatu hari.

“ huuhh…!! Gogi mendengus. “Tidak…! Aku tidak mau bermain denganmu tubuhmu bau…!” lanjutnya sambil berlalu.

Di hari yang lain, Nuy Nuri menyapa Gogi ramah.

“Cit cit cuit…Gogi….bolehkah aku bertengger di punggungmu…?” sapa Nuy Nuri di suatu pagi yang cerah. “kita jalan-jalan ke tepi hutan, atau ke tepi sungai…sambil ngobrol-ngobrol…” ajak Nuy penuh semangat.

“Kamu bertengger di punggungku…? Enak saja…!” jawab Gogi ketus.

Setiap hari Gogi lebih senang bermain sendiri. Menyusuri hutan mencari buah-buahan, atau bermain kepak air di sungai.

Cici kelinci yang ingin menemaninya menyusuri hutan pun di acuhkannya. Bahkan hampir saja cici kelinci terinjak oleh kaki Gogi yang besar itu.

Suatu hari paman Dombi domba menyapa gogi “kenapa kau selalu sendiri Gogi..? tidak adakah teman-temanmu yang dapat kau ajak bermain bersama..? Tanya paman Dombi saat itu.

“Tidak  paman…! Aku lebih senang bermain sendiri. Sendiri itu lebih menyenangkan” sahut Gogi.

“Ooo…. begitu ya ?….” Ujar paman Dombi. “Bagaimana jika kau membutuhkan bantuan orang lain ?”

“Apakah menurut paman aku membutuhkan bantuan orang lain..?” Gogi balik bertanya. “Tubuhku yang besar ini tidak akan mudah terjatuh paman. “Dan kakiku yang kuat ini dapat menopang tubuhku dengan baik. Bahkan jika aku berjalan tanah yang ku injak pun bergetar..” ujar Gogi seraya menghentak-hentakkan kakinya. “Dan belalaiku yang panjang ini dapat membantu ku menggapai dahan atau buah-buahan yang ingin aku petik walau pun berada di pohon yang tinggi…” lanjut Gogi penuh keangkuhan.

“Astaghfirullohaladziim….” Paman Dombi beristighfar seraya menggelengkan kepala. “Apa yang kau katakan itu benar Gogi..tapi kau tidak perlu berkata seperti itu, karena itu adalah sikap yang tidak baik. Itu sombong namanya. Allah melarang kita bersikap sombong…” nasehat paman Dombi panjang lebar. “Ayo….sekarang kau carilah teman-temanmu dan bermainlah bersama mereka”

“Hhhh….!!” Gogi mendengus sambil berlalu.

Hari-hari pun berlalu. Gogi sudah lupa apa yang dipesankan oleh paman Dombi. Ia tetap saja bermain sendiri. Teman-teman pun sudah tidak mau lagi menyapanya.

Suatu ketika, penghuni hutan sedang asik dengan kesibukan masing-masing. Para orang tua mencari makanan untuk anak-anak mereka. Dan anak-anak sedang bermain kepak air di tepi sungai sambil bersenda gurau.

Tiba-tiba jeritan minta tolong mengagetkan mereka.  Suaranya dari dalam hutan.

“Tolooong….tolooooongggg…..!!  “Tolong akuuuuuu……!!”

“Teman-teman….coba dengar…! Ada suara minta tolong..!” Ujar cici kelinci yang sedang asik berlompatan di rerumputan dekat sungai.

“Suaranya dari dalam hutan teman-teman…”  Sahut kambi si kambing.

“Toloooongg…toloooonggg…!  Tolong akuuuuu….!”  Suara itu tedengar lagi.

“Rasanya aku mengenal suara itu..!”  sahut cici kelinci.

“Ya…! Aku juga seperti mengenal suara itu….! Coba aku lihat dulu yaa…” sahut Moly sambil bergelantungan di dahan lalu melesat ke dalam hutan.

Tak lama kemudian Moly kembali.  “tadi itu adalah suara Gogi teman-teman…! Dia terperangkap di dalam hutan” terang Moly dengan terengah-engah.

“Haaa….??? Gogi…..??  sahut kambi Kambing.

“Kasian Gogi, kita harus menolongnya teman-teman”  Nuy penuh iba.

“Tidak…! Kita tidak perlu menolongnya…!” ujar Cici geram

“Iya..! Dia tidak mau berteman dengan kita. Aku sering hampir terinjak oleh kakinya yang besar itu…” tambah Yama si ayam hutan.

“Betul…! Aku saja sering menyapanya selalu diacuhkan..” tambah Moly lagi.

“Tapi Gogi sedang butuh bantuan kita teman-teman. Kita harus menolongnya..” ujar Nuy lirih. Suaranya terdengar seperti menahan tangis.

Mendengar ucapan Nuy, semua terdiam. Sementara dari kejauhan jerit minta tolong Gogi terdengar lagi. Kali ini terdengar lirih,bahkan sesekali ada isak tangis diantara jeritannya.

“Toloooongggg….huhuuuuu….”

“Aku tidak bisa naik…huuuuuuu”

“Tolong aku……” suaranya mulai terdengar putus asa. 

“Tuuh…dengar…!! Gigi sangat membutuhkan bantuan kita. ayo teman-teman…!’ ajak Nuy .

Moly dan teman-teman lainnya masih terdiam.

Tiba-tiba dari balik rerimbunan muncul paman Dombi Domba.

“Nuy benar..! ayo…kalian harus segera menolong Gogi. Lupakan marah dan kesal kalian padanya”

Mendengar ucapan paman Dombi Domba yang bijaksana Moly dan kawan-kawan saling bertatapan.

“Kalian lupa ya, kisah Rasulullah yang paman ceritakan minggu  lalu..? Rasulullah tidak dendam sedikit pun ketika seorang Quraish yang tidak senang dengannya selalu meludahi Rasulullah setiap pagi saat Rasulullah lewat di depan rumahnya, dan ketika Quraish itu jatuh sakit Rasulullah justru menjenguknya” tutur paman Dombi penuh semangat.

Paman Dombi Domba memang selalu bersemangat jika bercerita, apalagi kalau yang di ceritakan adalah kisah-kisah Rasulullah SAW. 

Mendengar penuturan paman Dombi domba, Moly dan kawan-kawan saling bertatapan.

“Ayo kita tolong Gogi….! “ Ajak  Kambi kepada teman-temannya. Ia berlari ke arah Gogi berada di susul Moly, cici, Yama, Nuy  dan yang lainnya.

“Bagaimana keadaanmu Gogi….?” Tanya Moly kearah Gogi

“Aku tidak bisa bergerak Moly. Lubang ini pas dengan badanku…” jawab Gogi dari dalam lubang jebakan.

“Tunggu sebentar ya..kami akan cari tali dulu…” sahut moly lagi

“Di rumahku ada tali yang cukup panjang… aku ambil dulu yaa…’ ujar Beri beruang sambil terus berlari.

Sementara menunggu Beri, Moly memetik buah di sekitar tempat itu…lalu melemparkannya ke arah Gogi.

“Tangkap Gogi…! Makanlah…! Supaya badanmu tidak terlalu lemas…”

Sedangkan  kambi dan cici kelinci berlari mencari bala bantuan.

Sejurus kemudian Beri datang membawa tali tambang yang diambil dari rumah. Mereka pun membuat simpul, lalu melemparkannya ke arah Gogi.

Teman-teman yang lainnya bersiap menarik tali.

Di belakang mereka, ternyata telah datang para orang tua. Paman Dombi domba, ayah ibu Gogi, paman Beru Beruang dan yang lainnya turut membantu menarik tali tersebut.

“Bismillaahirrohmaanirrohiim…….satu….dua….tiga……!!!.”

Dan Gogi pun berhasil di tarik dari lubang jebakan.

“Alhamdulillaah…” ucap mereka hampir bersamaan.

“Huuuuuu…..Gogi menangis”  ia begitu terharu melihat banyak sekali yang menolongnya.

“Kenapa kamu menangis Gogi…?” Tanya paman Dombi Domba kepada Gogi. “Bukankah seharusnya kamu senang sudah selamat dari jebakan ?”

“Huuu.. uuuu….aku malu, kalian semua menolong ku padahal aku sudah berbuat tidak baik pada kalian….” Jawab Gogi sambil tersedu.

“Tidak apa-apa sayang… “ sahut Ibu Gogi seraya mengelus punggung Gogi. “berteman itu seperti ini….saling membantu di saat teman sedang membutuhkan…” lanjut ibu.

“Iya ibu, .sekarang aku mengerti apa yang ibu katakan selama ini…”

“Teman-teman…maafkan aku ya, Karena aku .sudah bersikap tidak baik kepada kalian, .tapi kalian baik sekali kepada ku…” ucap Gogi kepada teman-temannya.

Moly dan yang lainnya tersenyum.

“Tidak apa-apa Gogi…” ujar Nuy Nuri tulus

“Sekarang kamu tidak akan menginjak aku lagi  kan…?” Tanya Cici kelinci yang disambut derai tawa.

“Iya Cici…aku janji tidak akan menginjak kamu dan Yama lagi. Kalian mau jadi temanku kan teman-teman ?”

“Tentu Gogi, kami semua adalah temanmu..” jawab Moly  langsung memeluk Gogi yang diikuti Kambi, Cici dan yang lainnya.

Paman Dombi domba dan para orang tua bertepuk tangan. Mereka semua terlihat sangat lega. Kini tidak ada lagi Gogi gajah kecil yang sombong di hutan itu.

 

 

 

 

 

 

 


 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Senin, 11 Juni 2018

Raja

Suatu pagi, saat kegiatan jurnal pagi di kelas. Anak2 asik dengan kegiatan menggambar. Menuangkan segenap imajinasi dan goresan tangan mungil mereka pada selembar kertas.
Tiba-tiba, Raja berucap memecah kesunyian. "Nanti aku yg beli AC buat di kelas ini aahh...aku mau bilang mami.." ucapnya sambil menyeka keringat yg mengucur di keningnya.
"Masya Allah...anak baik" ujarku sambil tersenyum geli. Raja sedang sangat kepanasan rupanya. Memang, AC di ruang kelas kami kurang dingin, bahkan tidak dingin sama sekali. Mungkin karena kondisinya yang sudah lama dan sudah saatnya untuk diganti. Untuk anak berperawakan gemuk seperti Raja, keadaan ini tentu saja cukup menyiksa. Keringatnya terus mengucur...sampai dia berkata seperti itu.
Anak lainnya hanya tersenyum mendengar perkataan Raja, dan tetap fokus pada kegiatan mereka.
"Nanti kalau sudh besar, aku mau belikan rumah buat bu Lina dan bu Yus..!" Lanjut Raja penuh semangat.
"Masya Allah....!! Raja...? Baik sekali...."  sahutku.
"Aamiinn...ya Allah..." lanjutku dan bu Yus sejurus kemudian.
Hhmmm...coleteh Raja..celoteh anak2 yang menyejukkan.
Mungkin saja..ada malaikat di sekitar kami dan mencatat ucapan Raja..

Sabtu, 02 Juni 2018

Senpai Sholeh

Kamis sore itu seperti biasa pukul 5.30 adalah jadwal rutinku menjmput si bungsu Hisyam dari latihan bela diri. Tidak seperti biasanya, sudah jam 6 sore..bahkan azan maghrib mulai berkumandang latihan belum juga usai. Mungkin karena sebentar lagi akan ujian kenaikan tingkat. Aku masih menunggu dengan gelisah...tiba2 Hisyam muncul dari ruang latihan... Sambil berlari kecil ia berteriak menghampiriku...."bundaaaaa......." Sambil tersenyum aku pun menyambut kedatangannya.... "sudah selesai latihannya mas...?" Tanyaku pada si bungsu yg lebih senang di panggil dngan sebutan "mas" "Sebenarnya sih belum bun...tp yg masih kecil boleh pulang kata senpai..." jawab Hisyam tersengal. "Ooo...ya udah kalau begitu...pulang yuuk..dah maghrib nih" sahutku. "Bun..." ujar Hisyam sambil sibuk membuka ikatan sabuknya. Seperti ada hal penting yang ingin dikatakannya. "Iya mas..." jawabku seraya memperhatikan tangannya yg terus bergerak melepaskan lilitan sabuk putih di pinggang kecilnya. "Kalau Icam jadi senpai sudah besar nanti...icam stop latihan sebelum maghrib....!! Ujarnya penuh semangat...dengan tak lupa menegakkan jari telunjuknya tepat di depan wajahnya....kode untk kesungguhan ucapannya. "trus icam ajak orang2 yang latihan pergi ke masjid...!! lanjutnya seraya menunjuk masjid yang ada didekat lokasi latihan. Masya Allah...!! Sungguh aku tak menyangka kalimat itu yang mengalir dari lisan mungilnya...pria kecil 8 th ini terlihat begitu dewasa dengan ucapannya yg mantap. ..its amazing words...!! Tak sia-sia rasanya aku mencekokinya dngan kalimat-kalimat positif di setiap perbincangan kami di atas sepeda motor. Maklum...sebagai "ojek pribadi" akulah yg bertugas untk urusan antar jemput anak2 atau pun mengantar ke tempat les. Khususnya si bungsu Hisyam ini seringkali ikut denganku ke mana pun aku berkegiatan. Maka gak heran jika ada banyak topik yg kami perbincangkan sepanjang perjalanan. Tentang sampah yg berserakan di pinggir jalan, tentang pak polisi yg sedng mengatur lalu lintas, tentang pentingnya bangun pagi dan seterusnya. Salah satu topik favorit adalah tentang cita-cita. Dan selalu aku menyelipkan diakhir topik tsb.." jadi apa pun mas Icam nanti...mas tetap harus jadi anak sholeh...!!..kalau icam jadi polisi, jadilah polisi yg soleh...yg rajin sholat tepat waktu..rajin ngaji...rajin sedekah...begitu pun kalau icam jadi dokter..jadilah dokter yg soleh....." ujar ku suatu hari. "Ini bun bajunya..." mas Icam menyerahkan seragam latihannya padaku. Lalu naik di boncengan sepeda motor. "Yaa...semoga kelak mas icam jadi senpai yang sholeh ya..." ujarku penuh haru menutup perbincangan kami. "Amiiin..." jawab Hisyam penuh semangat