Gogi adalah seekor gajah kecil yang sombong. Dia tidak mau bermain dengan teman-temannya.
Dia merasa dirinya adalah yang paling
hebat di hutan itu. Dengan badannya yang besar. Gogi merasa dirinya adalah binatang
yang paling kuat.
Dengan kakinya yang kekar. Gogi merasa
paling mampu melintasi belukar di dalam hutan.
Dengan suaranya yang melengking nyaring, Gogi merasa paling pandai bernyanyi. Dan tak satu pun burung di hutan itu yang dapat menandingi suaranya.
Ibu Gogi sudah sering mengingatkan, bahwa apa yang di miliki adalah titipan dari Allah. Untuk itu Gogi harus pandai menjaganya, dan tidak perlu berlaku sombong atas apa yang di miliki.
“Hati-hati dengan tubuhmu Gogi…” pesan ibu suatu hari. “Gunakanlah untuk kebaikan misalnya, membantu orang lain yang membutuhkan bantuanmu…itu akan lebih baik bagi dirimu sendiri. Orang lain akan senang dan sayang padamu, Allah pun akan bertambah sayang padamu bahkan memberikan pahala kebaikan berlipat-lipat atas setiap kebaikan yang kamu lakukan…” nasehat ibu panjang lebar.
Namun Gogi tidak mengindahkan pesan ibunya. Justru Gogi selalu enggan bermain bersama teman-temannya. Padahal mereka semua ingin sekali bermain dengan Gogi.
Moli si monyet kerap menyapa sambil
bergelantungan di dahan yang Gogi lewati.
“ Gogi…. bolehkah aku bermain denganmu…”
sapa Moli suatu hari.
“ huuhh…!! Gogi mendengus. “Tidak…! Aku tidak mau bermain denganmu tubuhmu bau…!” lanjutnya sambil berlalu.
Di hari yang lain, Nuy Nuri menyapa Gogi
ramah.
“Cit cit cuit…Gogi….bolehkah aku
bertengger di punggungmu…?” sapa Nuy Nuri di suatu pagi yang cerah. “kita
jalan-jalan ke tepi hutan, atau ke tepi sungai…sambil ngobrol-ngobrol…” ajak
Nuy penuh semangat.
“Kamu bertengger di punggungku…? Enak saja…!” jawab Gogi ketus.
Setiap hari Gogi lebih senang bermain sendiri. Menyusuri hutan mencari buah-buahan, atau bermain kepak air di sungai.
Cici kelinci yang ingin menemaninya menyusuri hutan pun di acuhkannya. Bahkan hampir saja cici kelinci terinjak oleh kaki Gogi yang besar itu.
Suatu hari paman Dombi domba menyapa gogi “kenapa kau selalu sendiri Gogi..? tidak adakah teman-temanmu yang dapat kau ajak bermain bersama..? Tanya paman Dombi saat itu.
“Tidak
paman…! Aku lebih senang bermain sendiri. Sendiri itu lebih menyenangkan”
sahut Gogi.
“Ooo…. begitu ya ?….” Ujar paman Dombi. “Bagaimana
jika kau membutuhkan bantuan orang lain ?”
“Apakah menurut paman aku membutuhkan bantuan orang lain..?” Gogi balik bertanya. “Tubuhku yang besar ini tidak akan mudah terjatuh paman. “Dan kakiku yang kuat ini dapat menopang tubuhku dengan baik. Bahkan jika aku berjalan tanah yang ku injak pun bergetar..” ujar Gogi seraya menghentak-hentakkan kakinya. “Dan belalaiku yang panjang ini dapat membantu ku menggapai dahan atau buah-buahan yang ingin aku petik walau pun berada di pohon yang tinggi…” lanjut Gogi penuh keangkuhan.
“Astaghfirullohaladziim….” Paman Dombi
beristighfar seraya menggelengkan kepala. “Apa yang kau katakan itu benar
Gogi..tapi kau tidak perlu berkata seperti itu, karena itu adalah sikap yang
tidak baik. Itu sombong namanya. Allah melarang kita bersikap sombong…” nasehat
paman Dombi panjang lebar. “Ayo….sekarang kau carilah teman-temanmu dan
bermainlah bersama mereka”
“Hhhh….!!” Gogi mendengus sambil berlalu.
Hari-hari pun berlalu. Gogi sudah lupa apa yang dipesankan oleh paman Dombi. Ia tetap saja bermain sendiri. Teman-teman pun sudah tidak mau lagi menyapanya.
Suatu ketika, penghuni hutan sedang asik
dengan kesibukan masing-masing.
Tiba-tiba jeritan minta tolong
mengagetkan mereka. Suaranya dari dalam
hutan.
“Tolooong….tolooooongggg…..!! “Tolong akuuuuuu……!!”
“Teman-teman….coba dengar…!
“Suaranya dari dalam hutan teman-teman…” Sahut kambi si kambing.
“Toloooongg…toloooonggg…! Tolong akuuuuu….!” Suara itu tedengar lagi.
“Rasanya aku mengenal suara itu..!” sahut cici kelinci.
“Ya…! Aku juga seperti mengenal suara itu….! Coba aku lihat dulu yaa…” sahut Moly sambil bergelantungan di dahan lalu melesat ke dalam hutan.
Tak lama kemudian Moly kembali. “tadi itu adalah suara Gogi teman-teman…! Dia
terperangkap di dalam hutan” terang Moly dengan terengah-engah.
“Haaa….??? Gogi…..?? sahut kambi Kambing.
“Kasian Gogi, kita harus menolongnya
teman-teman” Nuy penuh iba.
“Tidak…! Kita tidak perlu menolongnya…!”
ujar Cici geram
“Iya..! Dia tidak mau berteman dengan
kita. Aku sering hampir terinjak oleh kakinya yang besar itu…” tambah Yama si
ayam hutan.
“Betul…! Aku saja sering menyapanya
selalu diacuhkan..” tambah Moly lagi.
“Tapi Gogi sedang butuh bantuan kita teman-teman. Kita harus menolongnya..” ujar Nuy lirih. Suaranya terdengar seperti menahan tangis.
Mendengar ucapan Nuy, semua terdiam.
Sementara dari kejauhan jerit minta tolong Gogi terdengar lagi. Kali ini
terdengar lirih,bahkan sesekali ada isak tangis diantara jeritannya.
“Toloooongggg….huhuuuuu….”
“Aku tidak bisa naik…huuuuuuu”
“Tolong aku……” suaranya mulai terdengar putus asa.
“Tuuh…dengar…!! Gigi sangat membutuhkan
bantuan kita. ayo teman-teman…!’ ajak Nuy .
Moly dan teman-teman lainnya masih terdiam.
Tiba-tiba dari balik rerimbunan muncul
paman Dombi Domba.
“Nuy benar..! ayo…kalian harus segera
menolong Gogi. Lupakan marah dan kesal kalian padanya”
Mendengar ucapan paman Dombi Domba yang
bijaksana Moly dan kawan-kawan saling bertatapan.
“Kalian lupa ya, kisah Rasulullah yang paman
ceritakan minggu lalu..? Rasulullah
tidak dendam sedikit pun ketika seorang Quraish yang tidak senang dengannya
selalu meludahi Rasulullah setiap pagi saat Rasulullah lewat di depan rumahnya,
dan ketika Quraish itu jatuh sakit Rasulullah justru menjenguknya” tutur paman
Dombi penuh semangat.
Paman Dombi Domba memang selalu bersemangat jika bercerita, apalagi kalau yang di ceritakan adalah kisah-kisah Rasulullah SAW.
Mendengar penuturan paman Dombi domba,
Moly dan kawan-kawan saling bertatapan.
“Ayo kita tolong Gogi….! “ Ajak Kambi kepada teman-temannya. Ia berlari ke arah Gogi berada di susul Moly, cici, Yama, Nuy dan yang lainnya.
“Bagaimana keadaanmu Gogi….?” Tanya Moly
kearah Gogi
“Aku tidak bisa bergerak Moly. Lubang
ini pas dengan badanku…” jawab Gogi dari dalam lubang jebakan.
“Tunggu sebentar ya..kami akan cari tali dulu…” sahut moly lagi
“Di rumahku ada tali yang cukup panjang… aku ambil dulu yaa…’ ujar Beri beruang sambil terus berlari.
Sementara menunggu Beri, Moly memetik buah di sekitar tempat itu…lalu melemparkannya ke arah Gogi.
“Tangkap Gogi…! Makanlah…! Supaya badanmu tidak terlalu lemas…”
Sedangkan kambi dan cici kelinci berlari mencari bala bantuan.
Sejurus kemudian Beri datang membawa
tali tambang yang diambil dari rumah. Mereka pun membuat simpul, lalu
melemparkannya ke arah Gogi.
Teman-teman yang lainnya bersiap menarik
tali.
Di belakang mereka, ternyata telah
datang para orang tua. Paman Dombi domba, ayah ibu Gogi, paman Beru Beruang dan
yang lainnya turut membantu menarik tali tersebut.
“Bismillaahirrohmaanirrohiim…….satu….dua….tiga……!!!.”
Dan Gogi pun berhasil di tarik dari
lubang jebakan.
“Alhamdulillaah…” ucap mereka hampir bersamaan.
“Huuuuuu…..Gogi menangis” ia begitu terharu melihat banyak sekali yang
menolongnya.
“Kenapa kamu menangis Gogi…?” Tanya
paman Dombi Domba kepada Gogi. “Bukankah seharusnya kamu senang sudah selamat
dari jebakan ?”
“Huuu.. uuuu….aku malu, kalian semua
menolong ku padahal aku sudah berbuat tidak baik pada kalian….” Jawab Gogi
sambil tersedu.
“Tidak apa-apa sayang… “ sahut Ibu Gogi
seraya mengelus punggung Gogi. “berteman itu seperti ini….saling membantu di
saat teman sedang membutuhkan…” lanjut ibu.
“Iya ibu, .sekarang aku mengerti apa
yang ibu katakan selama ini…”
“Teman-teman…maafkan aku ya, Karena aku .sudah
bersikap tidak baik kepada kalian, .tapi kalian baik sekali kepada ku…” ucap
Gogi kepada teman-temannya.
Moly dan yang lainnya tersenyum.
“Tidak apa-apa Gogi…” ujar Nuy Nuri
tulus
“Sekarang kamu tidak akan menginjak aku
lagi
“Iya Cici…aku janji tidak akan menginjak
kamu dan Yama lagi. Kalian mau jadi temanku
“Tentu Gogi, kami semua adalah
temanmu..” jawab Moly langsung memeluk
Gogi yang diikuti Kambi, Cici dan yang lainnya.
Paman Dombi domba dan para orang tua
bertepuk tangan. Mereka semua terlihat sangat lega. Kini tidak ada lagi Gogi
gajah kecil yang sombong di hutan itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar