Selasa, 20 Juli 2021

RAHASIA NADHIFA


 

Pagi itu seperti biasanya,  aku lihat langit tampak cerah meski matahari belum begitu bersinar. Namun suara kicauan burung saling bersahutan menyambut sang mentari, aku tetap semangat berangkat menuju sekolah menyambut kedatangan anak-anak. Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 07,00wib. Waktunya menyambut kedatangan anak anak di gerbang sekolah. Dengan senang hati kusiapkan semangat dan menyiapkan materi yang menyenangkan untuk mereka. Sudah tak sabar aku cepat ingin bermain bersama mereka.

Satu persatu anak anak berdatangan, ku sapa mereka dengan senyuman terhangat, menanyakan kabar, salim atau tos lalu mempersilahkan mereka masuk ke dalam kelas.

“ Bu Lina.....” suara mungil memanggilku saat aku mulai melangkah masuk. Aku menengok. Seorang gadis mungil setengah berlari mengejarku.

“ Nadhifa....? “ aku menghentikan langkah, lalu membungkukkan badan, agar sejajar dengannya. Nadhifa segera meraih tanganku untuk salim dan tersenyum ceria. Kami pun melangkah beriringan menuju kelas.

“koq terlambat..?” tanyaku seraya merangkul pundaknya.

“iya bu Lina. Semalam aku menunggu mama pulang ....” sahutnya tanpa hilang keceriaan.

“Oww...berarti di antar mama dong hari ini....” tebakku. Bisa di pastikan bila Nadhifa seceria pagi ini yang mengantarkan berangkat ke sekolah adalah mamanya.

“iiihhh..koq bu Lina tau siiiihhh...” Nadhifa gemas.

“tau dooongg....” jawabku seraya mencolek pinggangnya.

                                                                     --------------*******--------------

Nadhifa, gadis mungil yang cerdas. Perawakannya tidak gemuk namun juga tidak terlalu kurus. Rambutnya lurus panjang sebahu. Seringkali ia datang ke sekolah dengan rambut dikuncir kuda. Banyak bicara dan selalu punya ide kreatif. Sikap pemimpin sudah terlihat dari caranya mengatur teman- teman saat bermain.

Ketika bermain peran misalnya,  ia bak sutradara mengatur semua temannya untuk memainkan peran yang ia tentukan. Dan lucunya, tidak satu pun temannya yang membantah. Semua melakukan apa

 

yang diperintahkan Nadhifa. Dan bermain peran pun berjalan sempurna.

Suatu hari Nadhifa datang diantar mamanya sampai di pintu  kelas. Hari ini ia terlambat lagi. Namun seperti biasa ia tetap gembira. 

“Assalaamu’alaikuum...” ucap Nadhifa penuh senyum seraya melangkah menghampiriku untuk salim.

“Wa’alaikumussalaam anak cantiik” aku menjulurkan tangan lalu toss dan membuka lebar  kedua tanganku tanda menawarkan pelukan.

Nampak mama Nadhifa tersenyum  memperhatikan keakraban kami.

“Bu Lina,...ini dari Nadhifa...” mama Nadhifa menjulurkan kantong kresek kecil berisi botol bekas minuman. Aku segera mengampiri untuk mengambil kantong tersebut.

“saya bingung, buat apa sih bu....Sudah satu minggu ini dikumpulkan ”

“alhmadulillah...terima kasih ya ma, ...”

“kata nadhifa, bisa untuk membuat sesuatu ?” mama nadhifa menjawab sendiri pertanyaannya.

“iya ma, betul sekali. Saya sering sampaikan pada anak-anak bahwa barang yang sudah tidak terpakai masih dapat dimanfaatkan lagi, misalnya untuk membuat sesuatu yang dapat kita gunakan kembali seperti membuat tempat pensil dari kardus susu, membuat mobil mobilan dari botol bekas, ..”

“daur ulang...”

“iya ma, ...” aku mengiyakan sambil tersenyum

“oo..begitu, ...”mama Nadhifa pun tersenyum lalu berpamitan.

Segera ku tutup pintu kelas dan mengajak anak anak bersiap memulai kegiatan.

Tiba tiba Nadhifa menghampiriku hendak membisikkan sesuatu. Aku pun membungkuk agar sejajar dengannya.

“bu Lina, nanti bantu aku ya...” bisiknya bersemangat.

“bantu apa..?” tanyaku penasaran.

 

“nanti aja, kalau teman-teman sudah pulang..” Nadhifa mengedipkan sebelah matanya.

Aku tesenyum geli dengan tingkahnya. Namun aku mengerti, ada sesuatu yang direncanakan anak cerdas yang satu ini.

                                                                     --------------*******--------------

Tepat pukul 11.30 waktunya untuk pulang. Satu persatu anak anak sudah dijemput. Tinggal Nadhifa seorang. Aku mulai gelisah, koq tumben Nadhifa dijemput terlambat.

“Bu Lina ..ayo ke kelas...” Nadhifa menggandeng tanganku menuju kelas.

“Ada apa Nadhifa sayang...?” tanyaku setelah di dalam kelas.

“Aku punya rencana, Bu Lina jangan bilang siapa-siapa ya...” Nadhifa bicara perlahan, padahal hanya ada kami berdua.

“Rencana apa sih...?” aku penasaran

“Janji yaa..ini rahasia...” ucapnya sambil mengacungkan jari kelingkingnya dihadapanku.

Aku tersenyum geli. Mau tak mau ku acungkan pula  jari kelingking lalu mengaitkan di kelingking mungilnya, tanda setuju menjaga rahasia.

“Apa rahasianya...?” tanyaku sejurus kemudian.

“Aku mau buat sesuatu. Bu Lina harus bantu aku ya...”

“Buat apa...? untuk siapa...?”

“Aku juga belum tau mau buat apa...nadhifa mengangkat pundaknya.

“Tapi aku ingin buat sesuatu...” lanjutnya bersemangat.

“Untuk siapa...?” tanya ku lagi.

Belum sempat Nadhifa menjawab, suara seseorang mengucapkan salam diujung pintu.

“Assalaamu’alaikum...” suaranya terengah, mungkin karena terburu-buru.

“Wa’alaikumussalaam..” jawabku.

“Maaf bu, saya terlambat..”ucap mbak masih terengah.

 

 

 

“Nggak apa apa mbak..”aku tersenyum.

“Ayo Nadhifa, mbak sudah datang...”ujarku pada Nadhifa.

Nadhifa segera beranjak. Sambil mengulurkan tangannya untuk salim, dia berbisik “jangan lupa ya Bu Lina, rahasia...”

Aku mengangguk, dan mengedipkan mata  tanda mengerti.

                                                                     --------------*******--------------

Aku tengah merapikan perlengkapan yang dibutuhkan hari ini saat suara mungil yang ku kenal memanggilku diujung pintu.

“Bu Linaaaa....” panggil Nadhifa bersemangat.

“assalaamu’alaikum anak  solehah....” ucapku seraya menghampirinya. Tidak ada siapa-siapa di belakangnya.

“Koq sendiri ? “ tanyaku sambil berlutut. Mensejajarkan dengan tubuh mungilnya. Memang demikianlah sebaiknya jika kita hendak berbicara dengan anak-anak.

“Aku diantar mama, tapi sampai gerbang saja...” ujarnya bangga.

“Oh yaa...? Hebat..!” aku mengacungkan dua jempol. Nadhifa tertawa senang.

Sejurus kemudian dia mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. Ku amati Nadhifa menariknya dengan hati-hati. Selembar foto.

“foto mama dan papa? Untuk apa?

“aku ingin buat sesuatu pakai foto ini. Bu Lina bisa bantu kan?

“Insya Allah bisa, sudah ada idenya belum ?”  

Lagi lagi Nadhifa membisikkan sesuatu ditelingaku. Aku pun tersenyum, dan megangguk tanda mengerti. Tanpa berkata, aku mengacungkan jempol. Nadhifa tersenyum senang.

Mumpung teman-temannya belum datang, aku menuju box perlengkapan di loker kelas. Ku cari benda-benda yang dibutuhkan Nadhifa untuk proyek rahasianya.

                                                                     --------------*******-------------

 

Pukul 12 siang. Hari kedua kami menyelesaikan karya didalam kelas. Sudah hampir selesai. Tinggal finishing. Nadhifa memberi warna pada gambar yang dibuatnya. Masya allah semangat anak ini, tidak sebanding rasanya dengan usianya yang belum genap enam tahun. Membacanya masih belum lancar, bahkan menuliskan apa yang dia inginkan pun masih ku eja dan ada tulisan yang ku beri contoh karena berbahasa Inggris. Sungguh aku tidak menyangka ia menyiapkan ini untuk memberi kejutan bagi kedua orang tuanya di hari ulang tahun pernikahan mereka. Ia menyebutnya proyek rahasia. Dan benar benar rahasia. Aku dilarang menceritakan siapa pun, membuatnya pun hanya berdua saja setelah teman-temannya yang lain pulang.

“Yess...! selesai....!” Nadhifa mengakhiri goresan warnanya. Wajahnya nampak puas.

 “Bagus banget Nadhifa....!” aku setengah menjerit. “Pasti dah mama dan papa senang dengan karya Nadhifa.

“rencana selanjutnya apa lagi ?” tanyaku sambil membantu Nadhifa memasukkan karyanya dalam paper bag yang ku buat.

Nadhifa hanya tersenyum. Aku tau, sudah ada rencana difikirannya.

--------------*******-------------

Aku hendak membuka laptop, saat ku lihat ada satu pesan masuk di Handpone yang ku letakkan di meja. Ku baca nama pengirimnya, mama Nadhifa.

“Bu Lina, terima kasih banyak ya, sudah mendampingi Nadhifa mempersiapkan hadiah indah buat kami...sungguh kami sangat terharu bu...saat pulang dari kerja kami dapati di dinding kamar ada bingkai foto yang sangat lucu, lengkap dengan tulisan tangan dan gambar Nadhifa. Dan juga bunga dengan vas dari botol bekas itu bagus sekali. Saya yakin, Nadhifa membuatnya bersama Bu Lina. Apalagi dua hari ini dia minta dijemput terlambat. Pasti untuk membuatnya bersama ibu. Makasih banyak ya bu....sungguh ini hadiah terindah diulang tahun pernikahan kami, titip salam dari papa Nadhifa..”

Masya Allah, aku terharu. Sangat tidak menyangka respon orang tua Nadhifa sangat postif dan bangga atas karya anaknya. Mata ku berkaca, sejuk mengalir merambahi relung hatiku. Seorang anak yang  belum genap berusia enam tahun telah  membuatku demikian tersanjung. “Terima kasih Nadhifa, proyek rahasia itu semakin membuatku mengerti makna sebuah pemberian bukanlah  pada harga dan rupa”

--------------*******-------------

Tidak ada komentar:

Posting Komentar