Senin, 26 Juli 2021

NAYA

Adalah Naya, gadis mungil yg selalu diantar papanya setiap pagi. Wajahnya manis, kulitnya putih dan rambutnya agak bergelombang. Ku lihat sang papa ingin segera berangkat kerja...namun Naya masih belum mau melepas jari mungilnya dr genggaman papanya. Ah..mungkin karena masih belum nyaman, maklum Naya duduk di kelompok A..baru sekitar tiga bulan bersekolah. Aku coba menyapanya dngn mmperkenalkan diri bahwa aku adalah guru baru di sekolah ini. Seperti biasa..dngan mengumbar senyum dan sapaan khas kpd anak-anak. Naya nampak ragu. Bahkan nyaris menggelengkan kepala. "Yuuuk...sama bu Lina mainnya...biar papa berangkat kerja.." ujarku seraya meraih jari kecilnya. Yess...!! Berhasil...!! Meskipun tanpa ekspresi, Naya mau ku gandeng... Dan papanya pun dapat segera pergi dngan lega.
Sejak itu...beberapa pagi berikutnya aku selalu menyambut kedatangan Naya. Dengan rutinitas yang sama, menyapanya, meraih jari mungilnya, dan menemaninya bermain. Suatu hari Naya mengeluarkan kertas dari dalam tasnya. Tanpa berbicara dia menunjukkan gambar yang ia buat dengan bolpoint. "Masya Allah...bagus sekali....!! Sahutku antusias. " ini gambar apa ya Naya..." tanyaku pura-pura tak mengerti. " ini papa...ini mama.....ini aku..." jawabnya malu-malu. Suaranya pun pelan tertahan. "Waaahhh hebat...!! " ujarku bersemangat seraya mengacungkan dua jempol dihadapannya. 
Bagiku mendengar suara Naya meski pelan tertahan adalah kebahagiaan tersendiri. Karena sudah beberapa hari menemaninya bermain tak pernah ku dengar sedikit pun suaranya. Padahal aku sudah berusaha keras memancingnya untuk berbicara. Berbagai pertanyaan kuajukan, ia hanya menjawab dngan gelengan kepala atau mengangguk, dan tersenyum kecil jika aku berusaha menggodanya dngn tingkah lucu. 
 Dua hari berikutnya, seperti biasa ku sapa Naya yg sedng bersama papanya. Kali ini, dia langsung menghampiriku..menyalami, dan memelukku hangat... Hhhmmm..bahagia sekali rasanya mendapat sambutan sehangat ini. Sejurus kemudian Naya melepaskan pelukannya, menggandeng tanganku dan mengajakku ke dalam kelas. Sepertinya ada yang ingin dia tunjukkan. "Buat bu Lina..." ujar Naya seraya menyodorkan selembar kertas yang tergulung pada ku. "Wooww..gambar lagi..?" Tanyaku seraya menerima kertas tersebut dari tangan mungilnya. Segera ku buka gulungan kertas tersebut. Ada dua gambar anak perempuan, yang satu dengan rambut di kuncir dan yang satu lagi memakai jilbab. "Ini aku...yang ini bu Lina" terang Naya kemudian. "Oh yaa...?" Aku setengah menjerit. Haru, senang, bangga, tak menyangka, semuanya campur aduk di benakku. Anak yang kira-kira baru lima tahun di hadapanku ini....anak yang baru beberapa hari ini ku kenal....sudah bisa memberiku hadiah seindah ini...? Masya Allah...terima kasih Naya...jeritku dalam hati. Ku tatap gambar yg di berikan Naya lekat...Gambar khas bocah 5 tahunan. Rasa bahagia mengaliri sekujur tubuhku, sungguh ini adalah penghargaan luar biasa bagiku. Semacam pengakuan bahwa kehadiranku di terima dengan hangat di tempat baru ini. Aku yakin...besok akan ada lagi Naya yang lainnya yang mulai dapat menerima kehadiranku. "Terima kasih Naya..." ucapku seraya memeluknya erat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar