Senin, 26 Juli 2021
NAYA
Jumat, 23 Juli 2021
Akhir kata
Terkadang tidak ada kata yang dpt diucapkan diakhir perpisahan. Terlalu banyak rasanya yang ingin disampaikan, hingga tak dapat berkata-kata.
Yaa..demikianlah biasanya yg terjadi kala tiba dipenghujung pertemuan,...
Mohon maaf atas segenap salah dan khilafku, mohon maaf jika ada tutur dan sikap yg tak sempurna....
Jika kiranya ada kebaikan dariku..tentulah itu datangnya dari Allah...dan kpd Allah semuanya kan kembali...
Semoga kita semua selalu dalam rahmat dan perlindunganNYA...
#edisi pisah B3 Aba4 2018#
Selasa, 20 Juli 2021
RAHASIA NADHIFA
Pagi itu seperti biasanya, aku lihat langit tampak cerah meski matahari
belum begitu bersinar. Namun suara kicauan burung saling bersahutan menyambut
sang mentari, aku tetap semangat berangkat menuju sekolah menyambut kedatangan
anak-anak. Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 07,00wib. Waktunya
menyambut kedatangan anak anak di gerbang sekolah. Dengan senang hati kusiapkan
semangat dan menyiapkan materi yang menyenangkan untuk mereka. Sudah tak sabar
aku cepat ingin bermain bersama mereka.
Satu persatu anak anak berdatangan, ku sapa mereka
dengan senyuman terhangat, menanyakan kabar, salim atau tos lalu mempersilahkan
mereka masuk ke dalam kelas.
“ Bu Lina.....” suara mungil memanggilku
saat aku mulai melangkah masuk. Aku menengok. Seorang gadis mungil setengah
berlari mengejarku.
“ Nadhifa....? “ aku menghentikan langkah,
lalu membungkukkan badan, agar sejajar dengannya. Nadhifa segera meraih
tanganku untuk salim dan tersenyum ceria. Kami pun melangkah beriringan menuju
kelas.
“koq terlambat..?” tanyaku seraya
merangkul pundaknya.
“iya bu Lina. Semalam aku menunggu mama
pulang ....” sahutnya tanpa hilang keceriaan.
“Oww...berarti di antar mama dong hari
ini....” tebakku. Bisa di pastikan bila Nadhifa seceria pagi ini yang
mengantarkan berangkat ke sekolah adalah mamanya.
“iiihhh..koq bu Lina tau siiiihhh...”
Nadhifa gemas.
“tau dooongg....” jawabku seraya mencolek
pinggangnya.
--------------*******--------------
Nadhifa, gadis mungil yang cerdas. Perawakannya
tidak gemuk namun juga tidak terlalu kurus. Rambutnya lurus panjang sebahu.
Seringkali ia datang ke sekolah dengan rambut dikuncir kuda. Banyak bicara dan
selalu punya ide kreatif. Sikap pemimpin sudah terlihat dari caranya mengatur
teman- teman saat bermain.
Ketika bermain peran misalnya, ia bak sutradara mengatur semua temannya untuk
memainkan peran yang ia tentukan. Dan lucunya, tidak satu pun temannya yang
membantah. Semua melakukan apa
yang diperintahkan Nadhifa. Dan bermain peran pun
berjalan sempurna.
Suatu hari Nadhifa datang diantar mamanya sampai
di pintu kelas. Hari ini ia terlambat
lagi. Namun seperti biasa ia tetap gembira.
“Assalaamu’alaikuum...” ucap Nadhifa penuh
senyum seraya melangkah menghampiriku untuk salim.
“Wa’alaikumussalaam anak cantiik” aku
menjulurkan tangan lalu toss dan membuka lebar
kedua tanganku tanda menawarkan pelukan.
Nampak mama Nadhifa tersenyum memperhatikan keakraban kami.
“Bu Lina,...ini dari Nadhifa...” mama Nadhifa
menjulurkan kantong kresek kecil berisi botol bekas minuman. Aku segera
mengampiri untuk mengambil kantong tersebut.
“saya bingung, buat apa sih bu....Sudah
satu minggu ini dikumpulkan ”
“alhmadulillah...terima kasih ya ma, ...”
“kata nadhifa, bisa untuk membuat sesuatu
?” mama nadhifa menjawab sendiri pertanyaannya.
“iya ma, betul sekali. Saya sering
sampaikan pada anak-anak bahwa barang yang sudah tidak terpakai masih dapat
dimanfaatkan lagi, misalnya untuk membuat sesuatu yang dapat kita gunakan kembali
seperti membuat tempat pensil dari kardus susu, membuat mobil mobilan dari
botol bekas, ..”
“daur ulang...”
“iya ma, ...” aku mengiyakan sambil
tersenyum
“oo..begitu, ...”mama Nadhifa pun
tersenyum lalu berpamitan.
Segera ku tutup pintu kelas dan mengajak anak anak
bersiap memulai kegiatan.
Tiba tiba Nadhifa menghampiriku hendak membisikkan
sesuatu. Aku pun membungkuk agar sejajar dengannya.
“bu Lina, nanti bantu aku ya...” bisiknya
bersemangat.
“bantu apa..?” tanyaku penasaran.
“nanti aja, kalau teman-teman sudah
pulang..” Nadhifa mengedipkan sebelah matanya.
Aku tesenyum geli dengan tingkahnya. Namun aku
mengerti, ada sesuatu yang direncanakan anak cerdas yang satu ini.
--------------*******--------------
Tepat pukul 11.30 waktunya untuk pulang. Satu
persatu anak anak sudah dijemput. Tinggal Nadhifa seorang. Aku mulai gelisah,
koq tumben Nadhifa dijemput terlambat.
“Bu Lina ..ayo ke kelas...” Nadhifa
menggandeng tanganku menuju kelas.
“Ada apa Nadhifa sayang...?” tanyaku
setelah di dalam kelas.
“Aku punya rencana, Bu Lina jangan bilang
siapa-siapa ya...” Nadhifa bicara perlahan, padahal hanya ada kami berdua.
“Rencana apa sih...?” aku penasaran
“Janji yaa..ini rahasia...” ucapnya sambil
mengacungkan jari kelingkingnya dihadapanku.
Aku tersenyum geli. Mau tak mau ku acungkan
pula jari kelingking lalu mengaitkan di
kelingking mungilnya, tanda setuju menjaga rahasia.
“Apa rahasianya...?” tanyaku sejurus
kemudian.
“Aku mau buat sesuatu. Bu Lina harus bantu
aku ya...”
“Buat apa...? untuk siapa...?”
“Aku juga belum tau mau buat apa...nadhifa
mengangkat pundaknya.
“Tapi aku ingin buat sesuatu...” lanjutnya
bersemangat.
“Untuk siapa...?” tanya ku lagi.
Belum sempat Nadhifa menjawab, suara seseorang
mengucapkan salam diujung pintu.
“Assalaamu’alaikum...” suaranya terengah,
mungkin karena terburu-buru.
“Wa’alaikumussalaam..” jawabku.
“Maaf bu, saya terlambat..”ucap mbak masih
terengah.
“Nggak apa apa mbak..”aku tersenyum.
“Ayo Nadhifa, mbak sudah datang...”ujarku
pada Nadhifa.
Nadhifa segera beranjak. Sambil mengulurkan
tangannya untuk salim, dia berbisik “jangan lupa ya Bu Lina, rahasia...”
Aku mengangguk, dan mengedipkan mata tanda mengerti.
--------------*******--------------
Aku tengah merapikan perlengkapan yang dibutuhkan
hari ini saat suara mungil yang ku kenal memanggilku diujung pintu.
“Bu Linaaaa....” panggil Nadhifa
bersemangat.
“assalaamu’alaikum anak solehah....” ucapku seraya menghampirinya.
Tidak ada siapa-siapa di belakangnya.
“Koq sendiri ? “ tanyaku sambil berlutut.
Mensejajarkan dengan tubuh mungilnya. Memang demikianlah sebaiknya jika kita
hendak berbicara dengan anak-anak.
“Aku diantar mama, tapi sampai gerbang
saja...” ujarnya bangga.
“Oh yaa...? Hebat..!” aku mengacungkan dua
jempol. Nadhifa tertawa senang.
Sejurus kemudian dia mengeluarkan sesuatu dari
dalam tasnya. Ku amati Nadhifa menariknya dengan hati-hati. Selembar foto.
“foto mama dan papa? Untuk apa?
“aku ingin buat sesuatu pakai foto ini. Bu
Lina bisa bantu kan?
“Insya Allah bisa, sudah ada idenya belum
?”
Lagi lagi Nadhifa membisikkan sesuatu ditelingaku.
Aku pun tersenyum, dan megangguk tanda mengerti. Tanpa berkata, aku
mengacungkan jempol. Nadhifa tersenyum senang.
Mumpung teman-temannya belum datang, aku menuju
box perlengkapan di loker kelas. Ku cari benda-benda yang dibutuhkan Nadhifa
untuk proyek rahasianya.
--------------*******-------------
Pukul 12 siang. Hari kedua kami menyelesaikan
karya didalam kelas. Sudah hampir selesai. Tinggal finishing. Nadhifa memberi
warna pada gambar yang dibuatnya. Masya allah semangat anak ini, tidak
sebanding rasanya dengan usianya yang belum genap enam tahun. Membacanya masih
belum lancar, bahkan menuliskan apa yang dia inginkan pun masih ku eja dan ada
tulisan yang ku beri contoh karena berbahasa Inggris. Sungguh aku tidak
menyangka ia menyiapkan ini untuk memberi kejutan bagi kedua orang tuanya di
hari ulang tahun pernikahan mereka. Ia menyebutnya proyek rahasia. Dan benar
benar rahasia. Aku dilarang menceritakan siapa pun, membuatnya pun hanya berdua
saja setelah teman-temannya yang lain pulang.
“Yess...! selesai....!” Nadhifa mengakhiri
goresan warnanya. Wajahnya nampak puas.
“Bagus banget Nadhifa....!” aku setengah
menjerit. “Pasti dah mama dan papa senang dengan karya Nadhifa.
“rencana selanjutnya apa lagi ?” tanyaku
sambil membantu Nadhifa memasukkan karyanya dalam paper bag yang ku buat.
Nadhifa hanya tersenyum. Aku tau, sudah ada
rencana difikirannya.
--------------*******-------------
Aku hendak membuka laptop, saat ku lihat
ada satu pesan masuk di Handpone yang ku letakkan di meja. Ku baca nama
pengirimnya, mama Nadhifa.
“Bu Lina, terima kasih banyak ya, sudah
mendampingi Nadhifa mempersiapkan hadiah indah buat kami...sungguh kami sangat
terharu bu...saat pulang dari kerja kami dapati di dinding kamar ada bingkai
foto yang sangat lucu, lengkap dengan tulisan tangan dan gambar Nadhifa. Dan
juga bunga dengan vas dari botol bekas itu bagus sekali. Saya yakin, Nadhifa
membuatnya bersama Bu Lina. Apalagi dua hari ini dia minta dijemput terlambat.
Pasti untuk membuatnya bersama ibu. Makasih banyak ya bu....sungguh ini hadiah
terindah diulang tahun pernikahan kami, titip salam dari papa Nadhifa..”
Masya Allah, aku terharu. Sangat tidak menyangka
respon orang tua Nadhifa sangat postif dan bangga atas karya anaknya. Mata ku
berkaca, sejuk mengalir merambahi relung hatiku. Seorang anak yang belum genap berusia enam tahun telah membuatku demikian tersanjung. “Terima kasih
Nadhifa, proyek rahasia itu semakin membuatku mengerti makna sebuah pemberian
bukanlah pada harga dan rupa”
--------------*******-------------
GOGI DAN TEMAN TEMAN BAIK HATI
Gogi adalah seekor gajah kecil yang sombong. Dia tidak mau bermain dengan teman-temannya.
Dia merasa dirinya adalah yang paling
hebat di hutan itu. Dengan badannya yang besar. Gogi merasa dirinya adalah binatang
yang paling kuat.
Dengan kakinya yang kekar. Gogi merasa
paling mampu melintasi belukar di dalam hutan.
Dengan suaranya yang melengking nyaring, Gogi merasa paling pandai bernyanyi. Dan tak satu pun burung di hutan itu yang dapat menandingi suaranya.
Ibu Gogi sudah sering mengingatkan, bahwa apa yang di miliki adalah titipan dari Allah. Untuk itu Gogi harus pandai menjaganya, dan tidak perlu berlaku sombong atas apa yang di miliki.
“Hati-hati dengan tubuhmu Gogi…” pesan ibu suatu hari. “Gunakanlah untuk kebaikan misalnya, membantu orang lain yang membutuhkan bantuanmu…itu akan lebih baik bagi dirimu sendiri. Orang lain akan senang dan sayang padamu, Allah pun akan bertambah sayang padamu bahkan memberikan pahala kebaikan berlipat-lipat atas setiap kebaikan yang kamu lakukan…” nasehat ibu panjang lebar.
Namun Gogi tidak mengindahkan pesan ibunya. Justru Gogi selalu enggan bermain bersama teman-temannya. Padahal mereka semua ingin sekali bermain dengan Gogi.
Moli si monyet kerap menyapa sambil
bergelantungan di dahan yang Gogi lewati.
“ Gogi…. bolehkah aku bermain denganmu…”
sapa Moli suatu hari.
“ huuhh…!! Gogi mendengus. “Tidak…! Aku tidak mau bermain denganmu tubuhmu bau…!” lanjutnya sambil berlalu.
Di hari yang lain, Nuy Nuri menyapa Gogi
ramah.
“Cit cit cuit…Gogi….bolehkah aku
bertengger di punggungmu…?” sapa Nuy Nuri di suatu pagi yang cerah. “kita
jalan-jalan ke tepi hutan, atau ke tepi sungai…sambil ngobrol-ngobrol…” ajak
Nuy penuh semangat.
“Kamu bertengger di punggungku…? Enak saja…!” jawab Gogi ketus.
Setiap hari Gogi lebih senang bermain sendiri. Menyusuri hutan mencari buah-buahan, atau bermain kepak air di sungai.
Cici kelinci yang ingin menemaninya menyusuri hutan pun di acuhkannya. Bahkan hampir saja cici kelinci terinjak oleh kaki Gogi yang besar itu.
Suatu hari paman Dombi domba menyapa gogi “kenapa kau selalu sendiri Gogi..? tidak adakah teman-temanmu yang dapat kau ajak bermain bersama..? Tanya paman Dombi saat itu.
“Tidak
paman…! Aku lebih senang bermain sendiri. Sendiri itu lebih menyenangkan”
sahut Gogi.
“Ooo…. begitu ya ?….” Ujar paman Dombi. “Bagaimana
jika kau membutuhkan bantuan orang lain ?”
“Apakah menurut paman aku membutuhkan bantuan orang lain..?” Gogi balik bertanya. “Tubuhku yang besar ini tidak akan mudah terjatuh paman. “Dan kakiku yang kuat ini dapat menopang tubuhku dengan baik. Bahkan jika aku berjalan tanah yang ku injak pun bergetar..” ujar Gogi seraya menghentak-hentakkan kakinya. “Dan belalaiku yang panjang ini dapat membantu ku menggapai dahan atau buah-buahan yang ingin aku petik walau pun berada di pohon yang tinggi…” lanjut Gogi penuh keangkuhan.
“Astaghfirullohaladziim….” Paman Dombi
beristighfar seraya menggelengkan kepala. “Apa yang kau katakan itu benar
Gogi..tapi kau tidak perlu berkata seperti itu, karena itu adalah sikap yang
tidak baik. Itu sombong namanya. Allah melarang kita bersikap sombong…” nasehat
paman Dombi panjang lebar. “Ayo….sekarang kau carilah teman-temanmu dan
bermainlah bersama mereka”
“Hhhh….!!” Gogi mendengus sambil berlalu.
Hari-hari pun berlalu. Gogi sudah lupa apa yang dipesankan oleh paman Dombi. Ia tetap saja bermain sendiri. Teman-teman pun sudah tidak mau lagi menyapanya.
Suatu ketika, penghuni hutan sedang asik
dengan kesibukan masing-masing.
Tiba-tiba jeritan minta tolong
mengagetkan mereka. Suaranya dari dalam
hutan.
“Tolooong….tolooooongggg…..!! “Tolong akuuuuuu……!!”
“Teman-teman….coba dengar…!
“Suaranya dari dalam hutan teman-teman…” Sahut kambi si kambing.
“Toloooongg…toloooonggg…! Tolong akuuuuu….!” Suara itu tedengar lagi.
“Rasanya aku mengenal suara itu..!” sahut cici kelinci.
“Ya…! Aku juga seperti mengenal suara itu….! Coba aku lihat dulu yaa…” sahut Moly sambil bergelantungan di dahan lalu melesat ke dalam hutan.
Tak lama kemudian Moly kembali. “tadi itu adalah suara Gogi teman-teman…! Dia
terperangkap di dalam hutan” terang Moly dengan terengah-engah.
“Haaa….??? Gogi…..?? sahut kambi Kambing.
“Kasian Gogi, kita harus menolongnya
teman-teman” Nuy penuh iba.
“Tidak…! Kita tidak perlu menolongnya…!”
ujar Cici geram
“Iya..! Dia tidak mau berteman dengan
kita. Aku sering hampir terinjak oleh kakinya yang besar itu…” tambah Yama si
ayam hutan.
“Betul…! Aku saja sering menyapanya
selalu diacuhkan..” tambah Moly lagi.
“Tapi Gogi sedang butuh bantuan kita teman-teman. Kita harus menolongnya..” ujar Nuy lirih. Suaranya terdengar seperti menahan tangis.
Mendengar ucapan Nuy, semua terdiam.
Sementara dari kejauhan jerit minta tolong Gogi terdengar lagi. Kali ini
terdengar lirih,bahkan sesekali ada isak tangis diantara jeritannya.
“Toloooongggg….huhuuuuu….”
“Aku tidak bisa naik…huuuuuuu”
“Tolong aku……” suaranya mulai terdengar putus asa.
“Tuuh…dengar…!! Gigi sangat membutuhkan
bantuan kita. ayo teman-teman…!’ ajak Nuy .
Moly dan teman-teman lainnya masih terdiam.
Tiba-tiba dari balik rerimbunan muncul
paman Dombi Domba.
“Nuy benar..! ayo…kalian harus segera
menolong Gogi. Lupakan marah dan kesal kalian padanya”
Mendengar ucapan paman Dombi Domba yang
bijaksana Moly dan kawan-kawan saling bertatapan.
“Kalian lupa ya, kisah Rasulullah yang paman
ceritakan minggu lalu..? Rasulullah
tidak dendam sedikit pun ketika seorang Quraish yang tidak senang dengannya
selalu meludahi Rasulullah setiap pagi saat Rasulullah lewat di depan rumahnya,
dan ketika Quraish itu jatuh sakit Rasulullah justru menjenguknya” tutur paman
Dombi penuh semangat.
Paman Dombi Domba memang selalu bersemangat jika bercerita, apalagi kalau yang di ceritakan adalah kisah-kisah Rasulullah SAW.
Mendengar penuturan paman Dombi domba,
Moly dan kawan-kawan saling bertatapan.
“Ayo kita tolong Gogi….! “ Ajak Kambi kepada teman-temannya. Ia berlari ke arah Gogi berada di susul Moly, cici, Yama, Nuy dan yang lainnya.
“Bagaimana keadaanmu Gogi….?” Tanya Moly
kearah Gogi
“Aku tidak bisa bergerak Moly. Lubang
ini pas dengan badanku…” jawab Gogi dari dalam lubang jebakan.
“Tunggu sebentar ya..kami akan cari tali dulu…” sahut moly lagi
“Di rumahku ada tali yang cukup panjang… aku ambil dulu yaa…’ ujar Beri beruang sambil terus berlari.
Sementara menunggu Beri, Moly memetik buah di sekitar tempat itu…lalu melemparkannya ke arah Gogi.
“Tangkap Gogi…! Makanlah…! Supaya badanmu tidak terlalu lemas…”
Sedangkan kambi dan cici kelinci berlari mencari bala bantuan.
Sejurus kemudian Beri datang membawa
tali tambang yang diambil dari rumah. Mereka pun membuat simpul, lalu
melemparkannya ke arah Gogi.
Teman-teman yang lainnya bersiap menarik
tali.
Di belakang mereka, ternyata telah
datang para orang tua. Paman Dombi domba, ayah ibu Gogi, paman Beru Beruang dan
yang lainnya turut membantu menarik tali tersebut.
“Bismillaahirrohmaanirrohiim…….satu….dua….tiga……!!!.”
Dan Gogi pun berhasil di tarik dari
lubang jebakan.
“Alhamdulillaah…” ucap mereka hampir bersamaan.
“Huuuuuu…..Gogi menangis” ia begitu terharu melihat banyak sekali yang
menolongnya.
“Kenapa kamu menangis Gogi…?” Tanya
paman Dombi Domba kepada Gogi. “Bukankah seharusnya kamu senang sudah selamat
dari jebakan ?”
“Huuu.. uuuu….aku malu, kalian semua
menolong ku padahal aku sudah berbuat tidak baik pada kalian….” Jawab Gogi
sambil tersedu.
“Tidak apa-apa sayang… “ sahut Ibu Gogi
seraya mengelus punggung Gogi. “berteman itu seperti ini….saling membantu di
saat teman sedang membutuhkan…” lanjut ibu.
“Iya ibu, .sekarang aku mengerti apa
yang ibu katakan selama ini…”
“Teman-teman…maafkan aku ya, Karena aku .sudah
bersikap tidak baik kepada kalian, .tapi kalian baik sekali kepada ku…” ucap
Gogi kepada teman-temannya.
Moly dan yang lainnya tersenyum.
“Tidak apa-apa Gogi…” ujar Nuy Nuri
tulus
“Sekarang kamu tidak akan menginjak aku
lagi
“Iya Cici…aku janji tidak akan menginjak
kamu dan Yama lagi. Kalian mau jadi temanku
“Tentu Gogi, kami semua adalah
temanmu..” jawab Moly langsung memeluk
Gogi yang diikuti Kambi, Cici dan yang lainnya.
Paman Dombi domba dan para orang tua
bertepuk tangan. Mereka semua terlihat sangat lega. Kini tidak ada lagi Gogi
gajah kecil yang sombong di hutan itu.