Pagi itu seperti biasanya, aku lihat langit tampak cerah meski matahari
belum begitu bersinar. Namun suara kicauan burung saling bersahutan menyambut
sang mentari, aku tetap semangat berangkat menuju sekolah menyambut kedatangan
anak-anak. Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 07,00wib. Waktunya
menyambut kedatangan anak anak di gerbang sekolah. Dengan senang hati kusiapkan
semangat dan menyiapkan materi yang menyenangkan untuk mereka. Sudah tak sabar
aku cepat ingin bermain bersama mereka.
Satu persatu anak anak berdatangan, ku sapa mereka
dengan senyuman terhangat, menanyakan kabar, salim atau tos lalu mempersilahkan
mereka masuk ke dalam kelas.
“ Bu Lina.....” suara mungil memanggilku
saat aku mulai melangkah masuk. Aku menengok. Seorang gadis mungil setengah
berlari mengejarku.
“ Nadhifa....? “ aku menghentikan langkah,
lalu membungkukkan badan, agar sejajar dengannya. Nadhifa segera meraih
tanganku untuk salim dan tersenyum ceria. Kami pun melangkah beriringan menuju
kelas.
“koq terlambat..?” tanyaku seraya
merangkul pundaknya.
“iya bu Lina. Semalam aku menunggu mama
pulang ....” sahutnya tanpa hilang keceriaan.
“Oww...berarti di antar mama dong hari
ini....” tebakku. Bisa di pastikan bila Nadhifa seceria pagi ini yang
mengantarkan berangkat ke sekolah adalah mamanya.
“iiihhh..koq bu Lina tau siiiihhh...”
Nadhifa gemas.
“tau dooongg....” jawabku seraya mencolek
pinggangnya.
--------------*******--------------
Nadhifa, gadis mungil yang cerdas. Perawakannya
tidak gemuk namun juga tidak terlalu kurus. Rambutnya lurus panjang sebahu.
Seringkali ia datang ke sekolah dengan rambut dikuncir kuda. Banyak bicara dan
selalu punya ide kreatif. Sikap pemimpin sudah terlihat dari caranya mengatur
teman- teman saat bermain.
Ketika bermain peran misalnya, ia bak sutradara mengatur semua temannya untuk
memainkan peran yang ia tentukan. Dan lucunya, tidak satu pun temannya yang
membantah. Semua melakukan apa
yang diperintahkan Nadhifa. Dan bermain peran pun
berjalan sempurna.
Suatu hari Nadhifa datang diantar mamanya sampai
di pintu kelas. Hari ini ia terlambat
lagi. Namun seperti biasa ia tetap gembira.
“Assalaamu’alaikuum...” ucap Nadhifa penuh
senyum seraya melangkah menghampiriku untuk salim.
“Wa’alaikumussalaam anak cantiik” aku
menjulurkan tangan lalu toss dan membuka lebar
kedua tanganku tanda menawarkan pelukan.
Nampak mama Nadhifa tersenyum memperhatikan keakraban kami.
“Bu Lina,...ini dari Nadhifa...” mama Nadhifa
menjulurkan kantong kresek kecil berisi botol bekas minuman. Aku segera
mengampiri untuk mengambil kantong tersebut.
“saya bingung, buat apa sih bu....Sudah
satu minggu ini dikumpulkan ”
“alhmadulillah...terima kasih ya ma, ...”
“kata nadhifa, bisa untuk membuat sesuatu
?” mama nadhifa menjawab sendiri pertanyaannya.
“iya ma, betul sekali. Saya sering
sampaikan pada anak-anak bahwa barang yang sudah tidak terpakai masih dapat
dimanfaatkan lagi, misalnya untuk membuat sesuatu yang dapat kita gunakan kembali
seperti membuat tempat pensil dari kardus susu, membuat mobil mobilan dari
botol bekas, ..”
“daur ulang...”
“iya ma, ...” aku mengiyakan sambil
tersenyum
“oo..begitu, ...”mama Nadhifa pun
tersenyum lalu berpamitan.
Segera ku tutup pintu kelas dan mengajak anak anak
bersiap memulai kegiatan.
Tiba tiba Nadhifa menghampiriku hendak membisikkan
sesuatu. Aku pun membungkuk agar sejajar dengannya.
“bu Lina, nanti bantu aku ya...” bisiknya
bersemangat.
“bantu apa..?” tanyaku penasaran.
“nanti aja, kalau teman-teman sudah
pulang..” Nadhifa mengedipkan sebelah matanya.
Aku tesenyum geli dengan tingkahnya. Namun aku
mengerti, ada sesuatu yang direncanakan anak cerdas yang satu ini.
--------------*******--------------
Tepat pukul 11.30 waktunya untuk pulang. Satu
persatu anak anak sudah dijemput. Tinggal Nadhifa seorang. Aku mulai gelisah,
koq tumben Nadhifa dijemput terlambat.
“Bu Lina ..ayo ke kelas...” Nadhifa
menggandeng tanganku menuju kelas.
“Ada apa Nadhifa sayang...?” tanyaku
setelah di dalam kelas.
“Aku punya rencana, Bu Lina jangan bilang
siapa-siapa ya...” Nadhifa bicara perlahan, padahal hanya ada kami berdua.
“Rencana apa sih...?” aku penasaran
“Janji yaa..ini rahasia...” ucapnya sambil
mengacungkan jari kelingkingnya dihadapanku.
Aku tersenyum geli. Mau tak mau ku acungkan
pula jari kelingking lalu mengaitkan di
kelingking mungilnya, tanda setuju menjaga rahasia.
“Apa rahasianya...?” tanyaku sejurus
kemudian.
“Aku mau buat sesuatu. Bu Lina harus bantu
aku ya...”
“Buat apa...? untuk siapa...?”
“Aku juga belum tau mau buat apa...nadhifa
mengangkat pundaknya.
“Tapi aku ingin buat sesuatu...” lanjutnya
bersemangat.
“Untuk siapa...?” tanya ku lagi.
Belum sempat Nadhifa menjawab, suara seseorang
mengucapkan salam diujung pintu.
“Assalaamu’alaikum...” suaranya terengah,
mungkin karena terburu-buru.
“Wa’alaikumussalaam..” jawabku.
“Maaf bu, saya terlambat..”ucap mbak masih
terengah.
“Nggak apa apa mbak..”aku tersenyum.
“Ayo Nadhifa, mbak sudah datang...”ujarku
pada Nadhifa.
Nadhifa segera beranjak. Sambil mengulurkan
tangannya untuk salim, dia berbisik “jangan lupa ya Bu Lina, rahasia...”
Aku mengangguk, dan mengedipkan mata tanda mengerti.
--------------*******--------------
Aku tengah merapikan perlengkapan yang dibutuhkan
hari ini saat suara mungil yang ku kenal memanggilku diujung pintu.
“Bu Linaaaa....” panggil Nadhifa
bersemangat.
“assalaamu’alaikum anak solehah....” ucapku seraya menghampirinya.
Tidak ada siapa-siapa di belakangnya.
“Koq sendiri ? “ tanyaku sambil berlutut.
Mensejajarkan dengan tubuh mungilnya. Memang demikianlah sebaiknya jika kita
hendak berbicara dengan anak-anak.
“Aku diantar mama, tapi sampai gerbang
saja...” ujarnya bangga.
“Oh yaa...? Hebat..!” aku mengacungkan dua
jempol. Nadhifa tertawa senang.
Sejurus kemudian dia mengeluarkan sesuatu dari
dalam tasnya. Ku amati Nadhifa menariknya dengan hati-hati. Selembar foto.
“foto mama dan papa? Untuk apa?
“aku ingin buat sesuatu pakai foto ini. Bu
Lina bisa bantu kan?
“Insya Allah bisa, sudah ada idenya belum
?”
Lagi lagi Nadhifa membisikkan sesuatu ditelingaku.
Aku pun tersenyum, dan megangguk tanda mengerti. Tanpa berkata, aku
mengacungkan jempol. Nadhifa tersenyum senang.
Mumpung teman-temannya belum datang, aku menuju
box perlengkapan di loker kelas. Ku cari benda-benda yang dibutuhkan Nadhifa
untuk proyek rahasianya.
--------------*******-------------
Pukul 12 siang. Hari kedua kami menyelesaikan
karya didalam kelas. Sudah hampir selesai. Tinggal finishing. Nadhifa memberi
warna pada gambar yang dibuatnya. Masya allah semangat anak ini, tidak
sebanding rasanya dengan usianya yang belum genap enam tahun. Membacanya masih
belum lancar, bahkan menuliskan apa yang dia inginkan pun masih ku eja dan ada
tulisan yang ku beri contoh karena berbahasa Inggris. Sungguh aku tidak
menyangka ia menyiapkan ini untuk memberi kejutan bagi kedua orang tuanya di
hari ulang tahun pernikahan mereka. Ia menyebutnya proyek rahasia. Dan benar
benar rahasia. Aku dilarang menceritakan siapa pun, membuatnya pun hanya berdua
saja setelah teman-temannya yang lain pulang.
“Yess...! selesai....!” Nadhifa mengakhiri
goresan warnanya. Wajahnya nampak puas.
“Bagus banget Nadhifa....!” aku setengah
menjerit. “Pasti dah mama dan papa senang dengan karya Nadhifa.
“rencana selanjutnya apa lagi ?” tanyaku
sambil membantu Nadhifa memasukkan karyanya dalam paper bag yang ku buat.
Nadhifa hanya tersenyum. Aku tau, sudah ada
rencana difikirannya.
--------------*******-------------
Aku hendak membuka laptop, saat ku lihat
ada satu pesan masuk di Handpone yang ku letakkan di meja. Ku baca nama
pengirimnya, mama Nadhifa.
“Bu Lina, terima kasih banyak ya, sudah
mendampingi Nadhifa mempersiapkan hadiah indah buat kami...sungguh kami sangat
terharu bu...saat pulang dari kerja kami dapati di dinding kamar ada bingkai
foto yang sangat lucu, lengkap dengan tulisan tangan dan gambar Nadhifa. Dan
juga bunga dengan vas dari botol bekas itu bagus sekali. Saya yakin, Nadhifa
membuatnya bersama Bu Lina. Apalagi dua hari ini dia minta dijemput terlambat.
Pasti untuk membuatnya bersama ibu. Makasih banyak ya bu....sungguh ini hadiah
terindah diulang tahun pernikahan kami, titip salam dari papa Nadhifa..”
Masya Allah, aku terharu. Sangat tidak menyangka
respon orang tua Nadhifa sangat postif dan bangga atas karya anaknya. Mata ku
berkaca, sejuk mengalir merambahi relung hatiku. Seorang anak yang belum genap berusia enam tahun telah membuatku demikian tersanjung. “Terima kasih
Nadhifa, proyek rahasia itu semakin membuatku mengerti makna sebuah pemberian
bukanlah pada harga dan rupa”
--------------*******-------------